Penyiapan SDM Digital termasuk Pelaku Digital , Standarisasi Kurikulum dan Trend TIK / digital serta arah Kebijakan TIK indonesia

Gallery

Contacts

Pulomas, Jakarta Indonesia

info@kptik.id

+62 -87735528989

Informasi Teknologi

KPTIK minta Jokowi berdayakan talenta digital di pedesaan

Ketua Komite Penyelarasan Teknologi Informasi Komunikasi (KPTIK) Dedi Yudiant meminta agar Presiden RI Joko Widodo dapat memberdayakan talenta-talenta digital di pedesaan. Ia juga mengimbau kepada Jokowi untuk membuat kebijakan masterplan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang terarah, sehingga bangsa Indonesai tidak lagi menjadi konsumen tapi menjadi produsen produk digital yang inovatif.

Menurut Dedi Yudiant, masalah yang paling fundamental menuju digitalisasi Indonesia adalah mengubah masyarakat dari level konsumen digital menjadi inovator produk digital. Jika belum mampu, setidaknya masyarakat minimal menjadi pelaku digital.

“Banyak startup-startup Indonesia, yang tadinya digadang menjadi unicorn atau decacorn, lalu dijual ke tangan asing ketika valuasi mereka naik. Karena itu, kita kehilangan momentum menghasilkan produk-produk digital yang inovatif yang benar-benar karya anak bangsa,” kata Dedi berdasarkan keterangan tertulis yang diterima redaksi elshinta.com, Jumat (11/2). 

Pertumbuhan ekonomi sekarang, kata Dedi tidak bisa lepas dari perkembangan dunia digital dengan beralihnya masyarakat realitas menuju menuju masyarakat siber (Cybers Society). Presiden Jokowi melihat peran TIK ketika pandemi Covid-19 mengubah perilaku ekonomi masyarakat ke arah ekonomi digital lebih masif lagi.

“Presiden Jokowi sendiri memiliki target Indonesia Emas 2045. Salah satu untuk mewujudkannya adalah membuat roadmap yang disusun oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Ini adalah panduan komprehensif berupa Roadmap Indonesia Digital 2021-2024 sesuai arahan Presiden Joko Widodo tahun lalu,” jelasnya.

Menurut Dedi, peta jalan tersebut terdiri dari empat pilar sektor strategis, yaitu infrastruktur digital, tata kelola digital, ekonomi digital, dan masyarakat digital. Presiden mencanangkan program yang disebut ‘Tol Langit’ yang akan menghubungkan seluruh wilayah Indonesia dengan internet.

“Program ini sudah bagus karena bisa mengisi blank spot pelosok Indonesia yang tidak tercakup internet. Tetapi mengejar infrastruktur saja belum cukup karena belum ada masterplan TIK terbaru dan pemberdayaan sumber daya manusia yang spesifik dalam menangkap peluang tersebut,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, Indonesia saat ini baru pada tahapan edukasi digital dan pemberdayaan sumber daya masyarakat sebagai penggerak ekonomi sektor digital. Karena itu, pengembangan TIK masih menjadi pekerjaan rumah pemerintahan Presiden Jokowi.

“Masterplan TIK dan pemberdayaan sumber daya masyarakat sangat penting untuk ketahanan TIK nasional agar produktif dan terarah. Di sisi lain, kurikulum pendidikan TIK yang komprehensif dan menyentuh esensi masih jauh yang diharapkan dunia kerja dan industri bahkan pasca pandemi nanti,” katanya.

Alhasil, kata dia, masih banyak masyarakat Indonesia yang gagap dengan fenomena teknologi yang baru masuk. Dia mencontohkan, fenomena sederhana NFT Ghozali Everyday yang viral, di mana masyarakat ikut-ikutan mengirim foto ke platform OpenSea tanpa ada pemahaman bagaimana mengelola teknologi tersebut.

“Pandemi Covid-19 juga mendesak masyarakat yang tadinya gagap teknologi untuk belajar teknologi secara otodidak, dan ini yang membuat kondisi literasi digital masyarakat masih sangat jauh dari kata sempurna,” ujarnya.

Dia menambahkan, hadirnya Tol Langit dan 4G di tiap desa merupakan peluang yang luar biasa. Mendigitalisasi UMKM di desa-desa akan memberikan dampak ekonomi bukan hanya skala kecil tetapi nasional.

Selama dua tahun terakhir pandemi Covid-19 telah membuka mata bagaimana ekonomi digital dan UMKM berperan menyokong ekonomi nasional selama krisis. Ekonomi digital dilihat sebagai masa depan, sehingga pemerintah menargetkan digitalisasi Indonesia satu dekade ke depan.

Namun, sayangnya masih ada celah dalam rencana ini, yakni minimnya SDM yang menguasai literasi digital terutama di desa-desa dan belum adanya masterplan TIK nasional secara spesifik. Selain itu, Road Map Indonesia Digital 2021-2024 juga belum memuat koordinasi antarlembaga atau kementerian secara spesifik.

Dedi melihat celah ini sebagai masalah yang mesti diperhatikan. Sejak jauh hari , Dedi Yudiant sudah menggagas Warung Kopi Digital (Warkop Digital) bekerja sama dengan Gubernur Provinsi Bengkulu Rohidin Mersyah.

Visi Warkop Digital adalah untuk menciptakan SDM yang menguasai perkembangan digital hingga membuka usaha digital di desa-desa dengan langkah sederhana. Program ini nantinya akan menjadi motor penggerak ekonomi digital di pedesaan.

“Warkop Digital adalah digital hub yang akan menyeleraskan ekonomi desa dan kota dengan memasarkan komoditas unggulan desa ke kota atau sebaliknya, serta menciptakan talenta-talenta digital di desa yang akan menjadi Pejuang Digital Rakyat Indonesia sesungguhnya,” katanya.

Selain itu, Warkop Digital dengan Cybers Academy juga mempersiapkan sumber daya manusia yang akan menjawab permintaan talenta digital dunia kerja. Hal ini melihat celah pendidikan akibat kurikulum yang terus berubah dan tidak konsisten, sementara jaringan 4G telah merata di seluruh desa.

Author

adminkptik

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.