Penyiapan SDM Digital termasuk Pelaku Digital , Standarisasi Kurikulum dan Trend TIK / digital serta arah Kebijakan TIK indonesia

Contacts

Pulomas, Jakarta Indonesia

info@kptik.id

+62 -87735528989

Teknologi

Ketua KPTIK: Kehadiran Starlink Dukung Warga di Daerah Terluar

Kekhawatiran kelompok penyedia jasa internet lokal atas masuknya Starlink ke Indonesia rasanya cukup berlebihan. Karena faktanya fiber optik dan wireless tidak bisa disamakan dengan operator satelit. 

Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Komite Penyelarasan Teknologi Informasi dan Komunikasi (KPTIK), Dedi Yudianto, di Jakarta, Senin (3/6/2024). Ia menanggapi beragam komentar miring dari sejumlah pihak atas kehadiran Starlink di Indonesia.   

Sebagai pakar teknologi informasi dan Komunikasi (TIK) yang menggeluti bisnis Internet Service Provider (ISP) selama lebih dari 20 tahun. Dedi justru mengapresiasi kehadiran bisnis internet berbasis satelit milik konglomerat Elon Musk tersebut. 

Kehadiran Starlink di Indonesia, menurutnya, justru mendukung aktivitas warga yang tinggal di daerah 3T atau daerah yang tertinggal, terdepan, dan terluar yang tidak tercover fiber optik dan wireless.

“Jadi, tidak ada alasan untuk khawatir berlebihan, kehadiran Starlink justru sangat membantu warga yang tinggal di daerah 3T. Akses internet di pulau terluar Indonesia justru makin terjangkau, selain kapasitas dan kecepatannya melebihi satelit operator lama, harga peralatannya juga jauh lebih murah,” kata Dedi, yang juga merupakan Inisiator Warkop Digital & CEO Cybers Group.

Dedi pun menerangkan perbandingannya, jika internet yang ditawarkan perusahaan satelit yang ada hanya  bermain di sekitar 1-10 megabit upload dan 10-50 megabit download. Sementara di Starlink, menurut dia, kapasitasnya bisa mencapai 30 megabit upload dan 300 megabit download dengan Latency cukup rendah yakni 35 ms dibanding operator satelit lain diatas 200 ms.  

“Perbedaannya sangat jomplang, harusnya kondisi ini disyukuri karena warga kita bisa terlayani akses internet dengan harga peralatan 7 jutaan dan bulanan 750 ribu dengan kapasitas besar, kecepatan luar biasa, latency rendah, dan harga jauh lebih murah dan terjangkau,” ujar Dedi.

Yang harus dipersoalkan, lanjut pengusaha muda ini, justru bukan kehadiran Starlink di Indonesia, tetapi dampak dari ketersediaan layanan internet dengan kapasitas besar dan kecepatan yang luar biasa tersebut. 

“Mudahnya akses internet di pusat kota, justru menjadi penyebab pemerintah sibuk mengurusi akses judi online dan pornografi yang sangat massif di Indonesia. Sementara, pengguna internet di daerah 3T atau pelosok mungkin lebih produktif memanfaatkan teknologi dan layanan akses internet karena harga masih lebih mahal sehingga mereka harus bisa produktif,” ucap Dedi, sosok pendiri media online warga guetilang.com.

Ia pun berharap semua pihak memikirkan bagaimana mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan internet pascamasuknya Starlink dengan menciptakan konten-konten menarik dan bermanfaat bagi banyak orang. Serta yang terutama, menjadi produktif dalam menyongsong Indonesia Emas dan bonus demografi ke depan.

“Ketika internetnya sudah dengan kapasitas besar dan kecepatan aksesnya juga sangat kencang, maka kontennya juga harus dipikirkan agar masyarakat pengguna internet lebih produktif dan tidak hanya mengakses judi online atau pornografi. Ini yang harus dipikirkan anak bangsa bersama-sama,” ujarnya.

Author

adminkptik